WELCOME TO EMBUN DELTA

M. Tholhah Al Hadi, S.S.

Aku Akan Selalu Merindukanmu

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

Minggu, 19 September 2010

AGAMA SUMBER PERTIKAIAN?

13 September 2010

Akhir-akhir ini masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan penusukan dua anggota Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) oleh orang yang tidak dikenal di Bekasi. Peristiwa ini seakan menjadi kado istimewa bagi bangsa Indonesia di hari lebaran tahun ini. Kiranya masih kental dalam ingatan kita di mana kita baru saja di hantam berbagai persoalan bangsa. Maraknya ledakan tabung gas elpiji beberapa bulan yang lalu, hingga kini masih belum tuntas dan (bahkan) sampai sekarang masih saja terjadi. Kasus Bank Century, pemilihan ketua KPK, Gunung Sinabung meletus, Gayus Tambunan, Ahmadiyah vs ormas Islam radikal, dll. Bangsa Indonesia yang plural pun kini kembali diuji bagaimana kita menghadapi keberagaman.

Konflik atas nama agama memang bukan persoalan baru di era modern. Kita tentu tidak asing lagi dengan tragedi Serbia dan Bosnia yang menewaskan ribuan umat muslim, dan tragedi Holocoust yang mengakibatkan terbunuhnya ribuan kaum Yahudi. Namun, yang lebih memprihatinkan, konflik ini tidak hanya berlaku antar agama, melainkan antar umat seagama. Pertikaian antara muslim Sunni dan Syi’ah di Iran masih terasa sampai sekarang, begitupun permusuhan yang dibangun kelompok Taliban serta kelompok fundamentalis lain di Tmur Tengah.

Tidak mau kalah dengan ‘seniornya’, di Indonesia – dalam beberapa dekade ini – juga kerap terjadi konflik internal sesama muslim. Kali ini aktornya adalah beberapa ormas Islam yang melakukan tindakan anarkisme terhadap segala bentuk ‘maksiat’. Bahkan atas nama agama, beberapa diantara mereka rela melakukan bom bunuh diri di tempat-tempat yang mereka ‘anggap’ sarang turis Australia, Amerika, dan Inggris. Pada dasarnya, mereka pastinya sadar, bahwa di sana juga ada umat muslim yang menjadi korban kekerasan dan (lebih-lebih) bom bunuh diri. Alasan tindakan tersebut pun masih saja klasik, yakni sebagai reaksi atas kekejaman Amerika dan Israel di Palestina, serta sebagai aksi simaptik untuk rakyat Iraq dan Afghanistan. Selain mencoba menanamkan konsep khilafah di muka bumi, mereka juga melestarikan ideologi anti-pluralisme, karena hal tersebut dianggap salah satu nilai yang berakar dari Barat.

Sejarah telah berbicara bahwa konflik atas nama agama sejatinya sudah muncul di masa Nabi-Nabi terdahulu, namun konflik tersebut lebih dominan kepada konflik antar agama. Namun, konflik antar sesama agama (Islam) setidaknya muncul setelah Nabi Muhammad wafat. Pada mulanya, pertikaian itu dilatarbelakangi motif ka-tauhid-an, yang kemudian berkembang menjadi persoalan politik dan kekuasaan. Dalam hal ini, terbunuhnya Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib di tangan sesama muslim adalah bentuk nyata bahwa pada saat itu hingga sekarang kita (umat Islam) belum bisa menghargai makna keberagaman (pluralisme) dalam kehidupan. Bagaimana bisa menciptakan kerukunan antar umat beragama jika persoalan intern seagama saja masih morat-marit.

Jika direnungkan lagi, setidaknya ada tiga konsep hubungan dalam beragama; hubungan antar seagama, hubungan antar lintas agama, dan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Bahkan oleh Dr. Muqsith Ghozali menambahkan dengan hubungan antara manusia dengan alam. Jadi, semua unsur tersebut harus dijalankan dengan baik untuk menciptakan kehidupan yang dinamis. Artinya, kerukunan itu akan terwujud seiring bagaimana kita bersikap kepada saudara seagama kita, bagaimana sikap kita kepada orang yang berbeda keyakinan terhadap kita, bagaimana kita melaksanakan perintah-perintah Tuhan, serta bagaimana kita menjaga lingkungan sekitar kita.

Sejarah telah berbicara bagaimana agama telah dijadikan alat paling sederhana untuk memecah belah umat, seakan Agama adalah akar pertikaian di dunia. Peristiwa penusukan dua anggota AKBP, Ahad (12/9) memang terlihat sepele, namun dampak yang sangat mungkin berkembang adalah rasa empati antar pemeluk agama. Kalau kita membenci umat beragama lain, bukankah itu berarti tugas dakwah sudah berakhir! Buat apa Nabi hijrah ke Madinah—yang pada waktu itu penduduknya masih Yahudi—kalau tidak untuk menyebarkan Islam dengan lembut. Wali Songo pun dakwah di Jawa yang notabenenya sangat kental dengan Hindu-Budhanya. Kalau perlu, seharusnya dakwah tidak lagi di masjid atau musholla, melainkan di tempat prostitusi, Maluku, Papua, Amerika, dan negara-negara Barat. Masuk Islamnya seseorang tidak disebabkan oleh manusia. Semua itu tidak lain adalah karena hidayah Allah, yang Maha Penguasa. Dia memberikan pelajaran kepada kita bagaimana menghadapi perbedaan.

Saya yakin, pada dasarnya kita semua pasti menginginkan terciptanya perdamaian di dunia. Tidak ada peperangan, pembunuhan, perampokan, dan segala jenis kekerasan. Bahkan negera-negara yang tergabung dalam PBB menciptakan sebuah lembaga yang khusus menangani keamanan dunia, yakni Badan Keamanan PBB. Namun yang terjadi di dunia tetaplah sunnatullah. Semuanya beraneka ragam; adanya baik karena adanya buruk. Tidak ada seorangpun yang mampu menyeragamkan alam semesta kecuali Allah. Sekarang, tinggal bagaimana kita belajar dari peristiwa-peristiwa keberagaman. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin. Wallahu a’lam

Tulisan sederhana ini sekedar untuk mengenang perjuangan almarhum almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid.

Sabtu, 22 Mei 2010

SUMBERGONDO; Antiklimaks Peran Seorang Pendidik

Muhammad Tholhah Al Hadi
Malang, 22 Mei 2010

14.38
Rasa capek dan pikiran yang sempat munumpuk selama Penelitian Lapangan rasanya terobati sepenuhnya setelah pada akhirnya kini tubuhku kembali di kamar berukuran 3 x 4 m, menandakan bahwa satu langkah usaha penelitian di desa Sumbergondo kecamatan Bumiaji kabupaten Batu telah usai. Kini masih ada 11 hari kedepan untuk benar-benar merampungkan laporan kelompokku yang bertemakan religiusitas. Rentan waktu lebih dari seminggu kiranya sudah sangat cukup untuk menyelesaikan laporan tersebut.

Namun, di saat yang bersamaan. Otak ini harus kembali berputar dengan tugas Psycholinguistics yang sampai saat ini kelompokku masih diam di tempat alias belum menentukan topik yang akan kami presentasikan tiga hari ke depan, Selasa. Kemudian menyusun bulletin IQROK-NA milik BEM-F Humaniora dan Budaya, pada akhirnya harus berkutit kembali di meja redaksi Suara Akademika. Bagaimanapun, aku akan meminjam istilah “ALL IZZ WELL” . . . seperti itulah jargon yang sering kali muncul di film inspiratif “3 IDIOT”.

---oOo---
Hari Pertama,

Bermacam dugaan yang dicampur dengan rasa senang beradu dalam pentas Penelitian Lapangan mata kuliah Introduction to Research Methodology. Pagi itu, Kamis, semua mahasiswa semester 6, sebagian ada yang dari semester 8 dan 10, telah siap berkumpul di depan fakultas Humaniora dan Budaya untuk persiapan keberangkatan. Sebagian besar dari mereka naik truk TNI yang telah disiapkan oleh panitia, semuanya ada 3 truk. Sedangkan aku dan beberapa teman mengendarai motor.

Sesampai di desa sumbergondo, semuanya berkumpul di gedung Taman Bermain milik yayasan BKA Mandiri untuk Opening Ceremony dan mendapatkan pengarahan dari Bapak Gunawan selaku Pembimbing mata kuliah IRM (Introduction to Research Methodology). Selang beberapa jam, kami semua berpencar memasuki rumah satu-persatu warga guna mencari responden, kami layaknya pasukan Densus 88 Anti Teror yang sedang memburu para teroris.

Sore harinya, ku sempatkan untuk bermain bola dengan teman-teman sampai maghrib. Sebelumnya, aku melihat tiga anak kecil (satu diantaranya perempuan) yang sedang asyik bermain bola di lapangan SD, yang mana sejurus kemudian aku terhipnotis untuk terlibat dalam permainan bola meski dengan anak kecil. Sangat menyenangkan bermain bola dengan canda tawa teman-teman diaduk dengan riang anak kecil yang masih polos.

Malam-pun menjemput sinar matahari dan segera menyembunyikannya dari balik gunung. Masing-masing kelompok berkumpul dan duduk bersama untuk melakukan tugas selanjutnya, yakni membuat tabulasi data. Raut muka serius para peserta Penelitian Lapangan hampir terlihat jelas di setiap kali mata memandang. Hanya beberapa dari mereka yang mungkin mencoba menghibur diri dengan gurauan agar keadaan terkesan tetap santai tapi serius.

Hari Kedua,

Udara pagi yang dingin dan sejuk menemani hari kedua kami di dusun Sumbergondo. Kerumunan pohon apel, jalan yang menukik, serta lika-liku para petani menuju tegalan melengkapi definisi dari pemandangan yang sangat indah dalam otak kami. Jalan-jalan pagi kiranya menjadi aktifitas yang terbaik. Tidak ada perbedaan aktifitas yang mencolok pada hari itu kecuali sholat Jum’at bagi para peserta laki-laki dan semangat teman-teman yang semakin memuncak karena hari itu tabulasi data harus selesai, karena keesokan harinya kami harus kembali ke kampus. Bahkan tidak sedikit terlihat juga beberapa peserta perempuan yang sampai terlihat letih dan sakit. Namun semua itu tidak menyurutkan semagat belajar mereka untuk bisa melakukan Penelitian Lapangan yang terbaik. Akhirnya, malam itu kelompokku berhasil menyelesaikan tabulasi data dan beberapa bab di laporannya.

Hari Ketiga,

Suasana yang sepertinya terasa berbeda di hari pamungkas. Karena akan banyak momen-momen yang mungkin (dan pastinya) tidak akan pernah dilupakan oleh teman-teman. Sebagai wujud dari semua itu, ekspresi diri dengan memperbanyak foto dari beberapa tempat adalah hal yang seakan menjadi fardlu ‘ain bagi teman-teman. Akupun tak lupa turut nimbrung berpose dengan teman-teman. Kegiatan Penelitian Lapangan akhirnya dipungkasi dengan acara Closing Ceremony secara kecil-kecilan dengan pemberian almari secara simbolis kepada Kades setempat.

---oOo---

Penelitian Lapangan yang sangat menyenangkan meski terkadang harus bertarung dengan angka-angka yang membuat kepalaku botak. Bagaimanapun, terimakasih yang sebesar-besarnya sangat patut ku sandangkan pada Bapak Drs. Gunawan, M.Pd. yang telah bekerja keras mendidik kami. Beliau tiada lelahnya bolak-balik dari rumah ke dusun Sumberbondo hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang mengalir seakan tanpa henti. Beliau dengan sabar menjelaskan dari satu kelompok ke kelompok lain. Beliau seakan menjadi malaikat kecil yang mampu memecahkan persoalan sekecil apapun yang kami punya selama Penelitian Lapangan.

Satu hal yang mungkin akan terpendam selama-lamanya dalam memory adalah saat beliau mengucapkan ‘semoga sukses’ tepat saat kucium tangan beliau sesaat sebelum kupacu motorku untuk kembali ke kampus. Sebuah peristiwa yang hampir selama tiga tahun ku tidak mendengarkan dari mu’allim-ku. Sebuah pelajaran berharga yang beliau terapkan bagi seorang pendidik agar senantiasa mendoakan anak didiknya. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa membalas jasa beliau dengan balasan yang sebaik-baiknya, amin.

Rabu, 05 Mei 2010

Masih Misteri

Muhammad Tholhah Al Hadi
Malang, 11 April 2010

Dalam diam bukan ku tak bicara
Aku bicara tanpa kata
Aku bicara tanpa suara,

Kata dan suaraku adalah rasa
Antara dua insan manusia
Yang masih menjadi rahasia-Nya,

Untuk siapa rasa ini kupunya?
Apakah dia juga merasa?
Kalau tidak, mengapa rasa ini harus ada?

Kullu syai in lahuu hikmatun,

Ku coba untuk tetap menghibur diri
Namun tak bisa dipungkiri
Kalau ku ingin lari
Untuk sekedar mengakhiri
Sebuah misteri.

Rabu, 07 April 2010

Haruskah Aku . . .




Haruskah ku akan mengucapkan selamat tinggal sementara ku masih mau mencoba. Haruskah ku akan menyerah sementara ku masih bernafas. Haruskah ku akan mengatakan tidak mencintainya sementara ku tak dapat melupakannya. Bulan memang indah tapi bukan bagiku. Bintang juga indah tapi bukan untuk ku. Yang terindah bagiku adalah bumi, karena di sana aku bertemu hamba kecil-Nya

Senin, 05 April 2010

Children of The Street's Life



Muhammad Tholhah Al Hadi

Malang, April 1st, 2010

The existence of children in our society needs a profound interest. Many children among us, but not all of them are having the same chance for studying. They are either the government’s and our responsible, thus we have to create them to be smart generations. Otherwise we would not have generations who are able to go our dream on. In this case, we can see that many children still do what they should not do. Actually, this is not a newly problem for us, but it is happening during many years.

There are two terms in case of describing children who are staying and going around the street. The first is ‘children of the street’, which describes children who spent their entire time or most of their time going around the street without any relationship with their family or relatives. This happens could be caused by internal problems such as broken home, driven out, no parents, and so on. That is why they decide to spent their time around the street.

The second one is ‘children in the street’ or we categorize them as children from the families of the street. They are children who also spend their time going around the street, but one thing which is difference is that they have a family living on the street too. In general, this kind of group could happen because of poverty. In addition, those two groups have the same aim which is asking for money in order to be able to survive.

I discern this as a urban phenomenon because this could be seen generally on the highway and public transportation. Thus, it is miserable when we see children going around the street for asking money while the others are studying. Childhood is a period for studying and playing. Their childhood should not be spent in the street; asking money, being singing beggar, and so on. They need an attention from us, because naturally their existence want to be admitted.

Children are precious generations, so that they have to get an education as well as the others. In this case, the government should solve how to decrease the number of either children of the street and children in the street. Basically, their environment do not care enough to them because they think that the children going around the street are not their responsible. On the contrary only their parents must be responsible for them.

Now, the problem is not suspecting someone who cause them being both children of the street and children in the street. At that very early stage, the problem comes from many aspects so that we could not generalize and address it to their parents. In fact, we find that there are some cases which could make them living around the street. It cannot be denied that people of Indonesia tend to be hard done by the government, especially for people who are from poor or low class. Thus, this kind of phenomenon should not fully addressed to the parents.
What we should do is putting our heads together how to solve it, or at least decrease it. In this case, there are some solutions; Personal Approach, because people generally assume them as naughty children and they do not need to come into lime light. In Addition, we need to give them more attention and self confidence so that they will not do bad tings.This personal approach also includes their education, jobs opportunity (skills), finances, and health.

From this, I hope that the government should give more attention to people from low class generally and their children especially in case of their rights, finances, education, and health, so that children of Indonesia will be greater generations than before.

Lautan Doa Untuk Gus Dur



Muhammad Tholhah Al Hadi

Malang, 5 April 2010


Lima kata itulah yang menjadi tema pada peringatan 100 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (04/04/10). Sebuah deretan kata yang penuh akan makna, bagi saya sendiri maupun masyarakat Indonesia pada umumnya, karena begitu banyaknya para peziarah yang ingin menjadi saksi atas cinta mereka pada mantan Presiden keempat tersebut. Lebih dari itu, mereka rela berbondong-bondong dari berbagai sudut kota di Indonesia untuk sekedar mendoakan Gus Dur yang insyaAllah telah mendapatkan tempat yang damai di sisi-Nya.

Saat melewati Pondok Pesantren Tebuireng, mata ini dibuat takjub karena deretan bus-bus sudah rapi berjejeran, padahal waktu itu masih siang. Para peziarah bertebaran di mana-mana layaknya gerombolan semut yang ingin mendekati gula. Sungguh basar balasan Allah bagi mereka yang mencintai umatnya.

Peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur bertepatan dengan hari Ahad, maka tidak heran selama perjalanan saya bisa melihat padatnya kendaraan yang lalu-lalang, seolah mereka menyapa saya setiap detik. Pada saat yang bersamaan, kebetulan saya juga ada keperluan untuk menghadiri undangan pernikahan (Eva Shofiyana) yang beralamatkan di daerah Mojoagung-Jombang. Mempelai wanitanya adalah teman satu pondok waktu di PP. As Sa’idiyah Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, dan sekarang satu kampus di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

De Javu, itulah yang sepertinya terjadi, yakni hujan mengguyur Jombang sesaat sebelum acara inti peringatan 100 hari wafatnya Gus Dur dimulai. Beberapa saat yang lalu (40 harinya), keadaan yang seperti itu terjadi. Alam sepertinya masih sedih ditinggal sembunyi oleh Gus Dur di balik kesunyian tanah. Tanpa menafikan gejala alam yang mungkin saja terjadi kapanpun, semua itu adalah tanda kebesaranNya. Semoga tanah Indonesia semakin subur karena yang turun pada saat itu adalah hujan rahmat.

Kalau dulu (peringatan 40 hari) Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U. dan KH. Musthofa Bisri yang diberikan kesempatan menguraikan kata-katanya di depan ribuan peziarah makam KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, dan keluarga. Kini di tempat yang berbeda budayawan Sujiwo Tejo dan hadlratussyeikh KH. Maimun Zubeir bergiliran memberikan deretan kata terindah untuk al maghfurlah KH. Abdurrahman Wahid.

Dalam kesempatan tersebut, ada satu hal yang rasanya cukup menarik dari sambutan Sujiwo Tejo untuk kita jadikan sebuah refleksi diri. Dengan gayanya yang khas, dia menggambarkan sosok Gus Dur sebagai Semar dalam dunia pewayangan. Lanjutnya, dia mengatakan bahwa senjata yang paling ampuh bukanlah panah pasopati Arjuna, tapi kentut Semar, bahkan para dewapun takut dengan kentutnya Semar. Dalam dunia kebudayaan, kentut digambarkan sebagai sesuatu yang kotor, bau, dan tabu. Namun lebih dari itu, ada suatu nilai moral yang terselip di dalamnya, yakni keberanian untuk melakukan hal-hal yang dianggap tabu oleh masyarakat. Dalam konteks ini, dia mencontohkan bahwasannya kalau dulu komunitas Tionghua dianggap ‘tabu’ di Indonesia, namun Gus Dur dengan sangat gagahnya membuka dan bahkan meresmikan ke-tabu-an sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kekayaan bangsa.

Sangat tidak salah kalau kemudian saya merefleksikan hal tersebut ke dalam kehidupan sekarang, di mana kita sudah terlanjur terbiasa tutup mulut terhadap sesuatu yang dianggap tabu. Secara dzohir, seseorang yang terbiasa menahan kentut karena gengsi atau jaga image, saya kira dia akan lebih menderita kemudian karena dia pada dasarnya belum mengetahui betapa nikmatnya bisa kentut. Dengan kata lain bahwasannya kentut itu memang tidak untuk disimpan, namun dikeluarkan.

Saat ini sudah terlalu banyak dari kita (bahkan saya sendiri) bersikap munafik terhadap hati nurani. Kita sulit untuk terbuka dan ceplas-ceplos saat menghadapi suatu keadaan. Di sisi lain, kita masih cenderung mengedepankan penampilan luar untuk sekedar harga diri. Seorang pengajar Al-Hikam pernah mengatakan bahwasannya orang berbahaya adalah orang baik; sopan, alim, pintar, cantik, tampan, dll. karena di situ terselip penyakit hati. Namun, hal tersebut mungkin dianggap terlalu ndakik-ndakik kalau kita pergi ke sana. Lebih mudahnya, kita bisa melihat tingkah elit politik kita saat mereka berlomba-lomba mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah atau negara, bagaimana mereka dengan sangat manisnya melantunkan janji-janji oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Mereka adalah orang-orang berpendidikan, rajin shadaqah, dan bahkan alim. Untuk menilai mereka, kita akan kembalikan pada hati nurani masing-masing.

Dari peringatan 100 harinya Gus Dur ini, semoga kita bisa mengambil ‘ibrah untuk menjadi bahan renungan bersama dan kemudian bersama-sama membangun Indonesia ke arah yang lebih maju. Hidup INDONESIA!

Minggu, 21 Maret 2010

2nd winner of culture festival


Rame-Rame



Cuban Rondo, Malang 22 Juni 2008






Tak Selamanya Sempurna





Muhammad Tholhah Al Hadi

Malang, 21 Maret 2010
18.45 WIB

Perjalanan hidup anak manusia di dunia memang penuh warna. Ada saat keemasan dan ada pula masa di mana keterpurukan harus dirasakan. Saat seseorang mendapatkan apa-apa yang diinginkannya, mungkin saat itulah yang dia menganggap bahwa hidupnya sempurna. Namun pada saat yang berbeda, orang akan menghukumi dirinya sendiri sebagai orang yang paling ‘sial’ di dunia oleh karena dia jarang sekali – dan bahkan tidak pernah – mendapatkan apa yang menjadi impiannya. Semuanya seolah-olah hanya ditentukan oleh satu periode.

Misbachul Amri, MA. (dosen mata kuliah Cultural Background fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang) pernah sedikit membahas tentang kesempurnaan hidup. Mungkin bagi sebagian orang menganggap bahwa kesempurnaan adalah manakala dia cantik/ tampan, kaya, rajin ibadah, dan lain sebagainya. Namun anggapan itu ternyata tidak sepenuhnya benar, karena kesempurnaan itu akan terlahir manakala seseorang punya keduanya; kekurangan dan kelebihan, pernah sakit dan merasakan sehat, dan sebagainya. Dan itulah manusia; wa maa khlaqna al insaana fii ahsani taqwiim.

THE DEATH OF GOD's CELEBRATION




Muhammad Tholhah Al Hadi

10/03/2010

Every single part in this universe is the creation of God, including human, animal, planet, sun, moon, plant, air, and even atom. We could not deny that we are nothing without other people and his creations. In other words, the essence we are created in this world is that to socialize each other. Thus, in the context of Islamic view, we would find two kinds of relationship; the first is relationship between one and others in which is called as ‘horizontal line’, then the second one is relationship between people and their God which is called as ‘vertical line’. Horizontal Line here could be described with socialization in a sociaty, respect each other, and so on. From this way, people may tend to consider themselves as a social personality. In other hands, Vertical Line in this context defined as a relationship between people and their God. Then, this is what I am going to explore deeper in terms of how vertical and horizontal line having the same essential part in this life.

One of the five basic principles of the Republic of Indonesia (Pancasila) is the belief in one God Almighty. That is the first and even the most important point for people of Indonesia; it speaks for itself that every single person must believe in God. In this case, the belief in one God does not mean only Islam, buat also other religions. However, it seems to be commonplace around us in which the existence of God is ‘nothing’. One side, more than 80% people of Indonesia are Muslim, and this makes Indonesia being able to be the greatest Muslim population in worldwide. But unfortunately Indonesia also becomes ‘the winner’ for corrupting among Pacific Asian. This research have newly made by PERC (Political and Economic Risk Consultancy) in Hongkong. They even said that Indonesia does not have any foundation yet in terms of overcoming a huge corruption. In addition, thousands of officeholders are free to corrupt as much as they want. Automatically these curruptors are growing up continuously as a result of the badness of criminal justice we have. One thing we might ask a question, don’t they have any belief of religion?

Another phenomenon, some conservative Muslim in Indonesia still keep ‘radical’ thought in their mind. Basically, they want to change what Indonesia has already had, that is the first principle of Pancasila, with Islamic concept. In other words, they have an important mission to change Democracy of Pancasila with Islamic system. In this case, they often force, intimidate, even ‘strike’ others whom different with their concept while they are also Muslim. The most ‘dangerous’ thought of theirs is that they think that people who are not obedient with Islamic rules are allowed to be killed. In recent times, we see that Islam in general has been identified as terrorism, even in Indonesia. This is the fact that there are many places have been exploded by reason of responding to United State, England, and Australia. When we know that the ‘protagonist’ here is a Muslim, how do we feel as a Muslim also? That works against Islamic image itself, doesn’t it? Furthermore, that means that they intuitively deny the plurality of His creatures, don’t they?

Naturally, each person around the world are given by God to be able to identify where is the right and the wrong without considering the eyes of their ethnic, religion, and group. Nothing belief or religion which educates their people to do crime and disturbance. Before doing crime, thief or corruptors are consciously understand that what they do is wrong. But finally they still decided to do it while they are politicians, officeholders who definitely ever been studied for years even from Islamic school or University. In addition, some ‘people’ of Indonesia – who are still lack of comprehension about Islam but they often react in the name of Islam – should learn more the essence of Islamic teaching. The Almighty God creates His creations differently, it is impossible to force others being the same or similar even permit to kill others. They believe and love in God but they kill His creatures, what’s wrong with these?

Those two phenomena are only simple description, because there are thousands more examples which identify the existence of ‘the Death of God’. In general, not only politicians who would be classified as people who celebrate the ‘death of God’ but also all of components involving us. Finally, Century case, bomb terror, and any kinds of corruption in this beloved nation must be removed. Indeed, it is not easy but what should we do now is that decrease and minimize them in order to create prosperous of Indonesia in the future. Finally, I would like to say that Indonesia is not Europe, Indonesia is not United States, Indonesia is not Australia, and Indonesia is not Arab. On the contrary, Indonesia is Indonesia, Islamic Indonesian is not Arabian’, and ‘God must be alive’ in Indonesia generally and specially in our daily life.

JELANG PEMILU RAYA




Rata Penuh
Muhammad Tholhah Al Hadi
Malang, 21 Maret 2010
18.00 WIB

Minggu-minggu ini ada yang terlihat berbeda di lingkungan UIN Maliki Malang. Hampir di setiap sudut ‘kampus hijau’ ini terpasang foto-foto calon pemimpin HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), SEMA (Senat Mahasiswa) atau sebelumnya lebih dikenal sebagai BEM-F (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas), dan BEM-U (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas). Simbol-sombol dan jargon partai mulai mendominasi kegiatan sehari-hari mereka, seolah menenggelamkan kegiatan formal akademik yang sakral. Ya, pemilu raya di lingkungan civitas akademika UIN Maliki Malang akan segera bergulir hanya dalam hitungan jam ke depan. Siapakah yang akan menjadi ‘pemenang’?

Setelah kemarin masing-masing kubu sibuk mengadakan penyaringan kandidat (secara intern) untuk diajukan ke Pemilu Raya, kini mereka disibukkan kembali dengan penyusunan strategi guna mendapatkan suara sebanyak-banyaknya; mulai dari menyebarkan SMS, update di facebook, sampai mungkin pada ‘gerakan fajar’ esok. Selama masa kampanye berlangsung, tidak jarang kedua kubu saling melemparkan visi dan misi terbaik mereka guna menarik simpati dari para mahasiswa.

Namun dibalik semua itu ada hal yang sangat patut disayangkan. Pada agenda-agenda tertentu, di sana tidak jarang kita menemukan konflik yang berkepanjangan, yang ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan kelompok sendiri-sendiri. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan cita-cita bangsa, di mana peran mahasiswa sangat dibutuhkan guna terciptanya demokrasi di setiap bidang. Dan pada Pemilu Raya tahun ini, aroma persaingan dari satu partai dengan partai lainnya semakin terasa, hal ini dikarenakan kursi jabatan yang akan diperebutkan akan melibatkan dua kubu yang akan bersaing secara ketat, berbeda dengan yang lalu di mana hanya ada satu calon tunggal dari satu partai.

Kita tentunya masih ingat bagaimana panasnya tensi persaingan pada Pemilu Raya tahun lalu. Satu pihak menyelenggarakan pemungutan suara, namun di pihak yang lain terjadi kerusuhan dan bahkan pembakaran ratusan lembar kertas suara. Kalau pada saat itu kerusuhan terjadi karena hanya ada satu calon tunggal (memang tidak hanya karena itu mereka melakukan pembakaran, namun saya kira inti dari kerusuhan pada saat itu adalah ketidaklolosan partai lain di Pemilu Raya sehingga pada akhirnya hanya memunculkan seorang calon tunggal dari satu partai). Dari peristiwa tersebut mungkin kita akan semakin penasaran apa yang akan terjadi besok (22/03). Akankah peristiwa itu akan pecah kembali (dengan alasan yang berbeda tentunya)? Semoga saja tidak.

Saat melihat kondisi seperti tadi, saya sedikit teringat apa yang diungkapkan ketua PBNU KH. Hasyim Muzadi pada rubrik Sosok, Jawa Pos edisi Sabtu, 20/03. Dia melihat sebuah paradoks dalam dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, mahasiswa di universitas umum kini cenderung terlibat dalam gerakan-gerakan Islam fundamentalis, terutama mahasiswa dari kelompok ilmu eksakta. Sebaliknya, mahasiswa di universitas Islam justru cenderung menganut aliran liberal.
“Mungkin mahasiswa di universitas Islam itu asal pondok, bertahun-tahun jadi santri, sehingga bosan saleh, pengin sekali-kali nakal. Sebaliknya, mahasiswa-mahasiswa umum justru merasa kering dan menemukan kesejukan di gerakan fundamentalis,'' kata pengasuh Ponpes Al-Hikam, Malang, itu.

Lanjutnya, dia menyatakan cukup prihatin melihat anggota-anggota HMI atau PMII yang sejatinya diharapkan menjadi intelektual muda Islam, namun kini tidak lagi intens berdiskusi dalam bidang keislaman. Mereka cenderung lebih banyak bergerak dalam tataran politik praktis. Seperti inilah kurang lebih redaksi beliau ketika menyentil generasi muda muslim sekarang: ''Anak-anak HMI dan PMII itu tidak lagi ngaji di kampus, tapi pilih bakar-bakar ban. Seakan-akan bakar-bakar ban itu lebih heroik daripada ngaji.''

Bagi saya pribadi, siapapun yang nantinya menjadi pemimpin HMJ, SEMA/ BEM-F, ataupun BEM-U tidaklah penting. Yang kita butuhkan sekarang adalah terciptanya rekonsiliasi antar organisasi intra kampus (HMI, PMII, IMM, KAMMI, dan lain sebagainya). Memang terlihat remeh, namun itulah hal mendasar yang selama ini kita tidak pernah melihat titik temunya. Lebih dari itu adalah upaya refleksi diri akan peran mahasiswa sebagai penerus bangsa, tidak hanya menonjolkan diri sebagai orator handal di tengah kerumunan pendemo. Karena para aktivis itulah yang pada akhirnya nanti ‘mungkin’ akan bertempat di gedung DPR-MPR. Kita tentu tidak ingin ada ‘anak play group’ lagi di sana. Akhirnya, semoga ‘kampus hijau’ UIN Maulana malik Ibrahim Malang umumnya dan para aktivis organisasi intra secara khusus, nantinya bisa menjadi uswah hasanah bagi seluruh anak manusia.

Sabtu, 20 Maret 2010

EDISI Lamongan


Menelusuri samudera harapan

Lulu' Farichah's Wedding

Saat-saat penyerahan thropy SAMSARA kepada mempelai Lulu' dan Arif
(ketegaran yang sedang di uji)

saat narzizzzz




WISATA BAHARI LAMONGAN (part II)



WISATA BAHARI LAMONGAN (part I)


Wisata Bahari Lamongan
Edisi Magang (PP. Sunan Derajat)


Wisata Bahari Lamongan (7 Maret 2010)
Dokumentasi Suara Akademika UIN Maliki Malang




HAMBA KECIL



Muhammad Tholchah Al Hadi
Malang, 5 Desember 2010

Aku, seorang hamba kecil yang hanya punya mimpi-mimpi tak berujung. Kutemukan saat-saat bahagia ketika kudapatkan mimpi-mimpi itu. Namun tak jarang juga ku harus bersabar menunggu mimpi-mimpi itu menjadi nyata. Pun hingga harus kudapatkan saat mimpiku hilang terimbun oleh tanah.

Aku, seorang hamba kecil yang hanya punya mimpi-mimpi tak berujung. Kalaulah memang aku tak bisa merangkai deretan kata-kata indah tuk merayu, aku masih punya mimpi indah yang menghiasi tidur malamku. Itu semua lebih dari cukup tuk sekedar mengobati sesak naafasku.


Aku, seorang hamba kecil yang hanya punya mimpi-mimpi tak berujung. Pernah ku temukan masa ketika aku terluka oleh mimpi, namun luka itu perlahan terobati saat satu masa datang. Masa di mana hati terpaut oleh makhluk Tuhan yang indah. Mungkinkah ini sebuah fatamorgana?


Aku, seorang hamba kecil yang hanya punya mimpi-mimpi tak berujung. Entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan mimpi ini, meski sadarku bilang aku tak pantas bersanding sebagai pengantinnya. Dia terlalu sempurna untuk hamba yang hanya punya mimpi-mimpi tak bermakna.


Dia adalah salah satu mimpi yang masih tersisa. Namun berhenti berharap adalah jalan satu-satunya tuk sekedar bangun dari mimpi, mengambil air wudlu, dan kemudian membangun kembali mimpi-mimpi sampai pada saatnya mimpiku terhenti oleh ajal.

KRITIK VS REAKTIF


Muhammad Tholchah Al Hadi
Malang, 17 Maret 2010
10.15 WIB

“Dikritik itu memang menyakitkan, namun lebih menyakitkan kritik yang tidak didengar.” “Ditolak itu memang menyakitkan, namun akan terasa lebih menyakitkan jika perasaan itu terus terpendam.” Dua keadaan yang tertuang di kalimat atas sangat mungkin pernah dialami oleh sebagian orang, bahkan penulis sendiri. Namun kebenaran akan ungkapan diatas mungkin dipandang masih relatif oleh sebagian orang yang menyangsikan. Hal ini sering terjadi manakala sebuah teori hanya bergulir tanpa dibarengi dengan pengalaman atau sesuatu yang bersifat aplikatif. Dalam konteks ini, siapapun pastinya pernah mengkritik meskipun dengan cara yang variatif. Kecenderungan orang untuk memberikan kritik memang tengah menjamur disekitar kita. Kita mungkin cenderung bersikap reaktif terhadap suatu problematika atau fenomena kehidupan. Tentunya sikap yang demikian dalam satu sisi akan memproduksi sesuatu yang bernilai positif, namun di sisi lain sikap ini juga sangat tidak mustahil malah akan melahirkan masalah baru.

Manakala kita melihat orang lain terjatuh dari motor hingga bercucuran darah, secara reaktif kita sesegera mungkin memberikan pertolongan kepadanya, tanpa mempertimbangkan siapa dia, agamanya apa, dan sebagainya. Dengan kata lain sikap reaktif yang demikianlah yang bernilai positif. Dari sini saya teringat dialog yang dilakukan Emha Ainun Najib di UIN Sunan Gunung Jati. Salah satu isi dari dialog tersebut antara lain kutipan yang mengatakan bahwa hakekat keberagamaan itu laksana membuang duri dari jalan. ‘Duri’ yang tidak jelas agama, ras, dan jenis kelaminnya tersebut akan menusuk siapa saja yang lewat jalan itu, tanpa pandang bulu apakah dia Islam atau bukan. Oleh karena itu, tindakan reaktif untuk segera menyingkirkan duri dari jalan menurut saya memang manifestasi dari ajaran Islam secara khusus, dan semua agama pada umumnya.

Namun, sejarah mengatakan bahwa kita masih cenderung bersikap ‘terlalu’ reaktif saat mendapatkan suatu fenomena (di mana fenomena tersebut yang seharusnya tidak disikapi secara reaktif sebelum memahami dengan benar apa yang sebenarnya terjadi). Seperti halnya ketika kita dihadapkan pada situasi sosial yang sepertinya tidak lazim atau berbeda dengan ideologi kita. Dalam konteks ini kita bisa mengamati beberapa contoh problematika sosial berikut yang ‘dianggap’ menyimpang oleh sebagian kalangan; Pertama, saat media masa ramai memberitakan kontroversi Syeikh Puji yang menikahi gadis di bawah umur; kedua, saat membaca judul “Menertawakan Kematian Tuhan” yang ditulis oleh Abdul Aziz, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; atau mendengar komentar Gus Dur yang mengatakan “Semua presiden Indonesia mempunyai penyakit gila” hingga pernah juga menyebut “Al-Quran sebagai kitab terporno sedunia”, dan banyak lagi kontroversi-kontroversi lain, yang terbukti kemudian kita secara reaktif menelan mentah-mentah isu-isu yang muncul ke permukaan tersebut. Tentu saja, yang muncul kemudian adalah sikap marah, kebencian, hingga pada sikap memurtadkan orang lain yang notabenenya masih saudara satu iman. Akibatnya, rusaklah integritas kita sebagai satu bangsa di satu sisi, dan satu agama di sisi lain.

Inikah yang kita inginkan? Tentunya tidak demikian. Kita tidak bisa menyamaratakan setiap persoalan begitu saja tanpa memahami terlebih duduk masalah yang sedang terjadi. Manakala kita salah menempatkan, tentunya akan melahirkan persoalan baru yang bahkan bisa lebih parah. Kita bisa membayangkan apa yang terjadi saat kedua contoh fenomena yang digambarkan sebelumnya, ternyata disikapi dengan cara sebaliknya. Kritis terhadap fenomena kekinian memang diperlukan, namun sikap reaktif yang ditunjukkan haruslah selaras dengan konteksnya. Melihat ada orang judi misalnya, terus kita langsung saja membunuhnya atau memukulnya...bukankah ini malah akan merusak citra Islam? Oleh beberapa kalangan, kini Islam banyak di gambarkan sebagai agama yang keras, suka perang, suka kekerasan, dan seterusnya. Tentu bukan seperti ini kan yang ingin kita wacanakan pada agama dan bangsa lain? Wallahu a’lam

Marhabaan Yaa Obama


Muhammad Tholchah Al Hadi
Kamis, 18 Maret 2010
09.00 WIB

A
khir-akhir ini kita cukup disibukkan dengan pro-kontra kedatangan presiden Amerika serikat, Barack ‘Hosein’ Obama. Bagi mereka yang menolak, beranggapan bahwa Indonesia tidak sepatutnya menerima tamu ‘penjahat’ perang seperti Amerika. Namun di lain pihak, organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, serta pemerintah sendiri secara terbuka bersikap welcome atas kedatangan Obama ke Indonesia. Dari pro-kontra tersebut, kedatangan presiden Obama (yang pada dasarnya bukan masalah besar) seakan merembet menjadi masalah nasional.

Sebagai warga negara Indonesia, secara naluri kita harus mencintai secara penuh bangsa ini. Islampun mengajarkan umatnya untuk senantiasa mencintai negaranya (hubbul wathan min al iman). Kita tinggal dan hidup di negara Indonesia, dimana Pancasila sebagai ideologi dasar negara. Beragam etnis dan agama hidup berdampingan di Indonesia, meskipun secara kuantitas penduduk muslim masih mendominasi. Pada sisi yang lain, Indonesia merupakan satu diantara negara-negara yang terhampar di atas belahan bumi. Analoginya seperti ini, seumpama kita bertempat tinggal di suatu desa yang di sana tentunya ada bermacam karakter manusia; baik dan jahat, serta muslim dan non-muslim. Tentunya kita bisa menilai sendiri bagaimana seharusnya sikap kita dalam interaksi sosial.

Ada hal yang cukup menarik dari apa yang di sampaikan Ulil Abshar Abdallah di salah satu program tvone (17/03). Di sana dia mengatakan bahwa orang Islam itu harus cerdas kalau ingin mengalahkan Amerika. Dia mencontohkan keberhasilan China saat ini sebagai satu-satunya negara di dunia ini yang mampu mengontrol Amerika melalui sistem ekonominya. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bagaimana kita memperbaiki sistem ekonomi dengan baik, kemudian masuk ke pasar Amerika. Cara lainnya adalah mengirimkan pelajar-pelajar Indonesia belajar ke Amerika, yang kemudian kembali pulang ke tanah air dengan membawa senjata ilmu pengetahuan secara luas. Seperti yang ditunjukkan presiden pertama kita, bung Karno. Pada awalnya dia belajar ke Belanda namun kemudian melwan Belanda dengan ilmunya. Istilah populernya “senjata makan tuan”.

Mungkin hal-hal cerdas seperti itulah yang seharusnya dipikirkan dan dilakukan oleh kaum muslim pada umumnya, dan bangsa Indonesia khususnya. Tidak lantas hanya berbekal ideologi yang kaku tanpa ditunjang khazanah keilmuan yang luas. Sikap memusuhi Amerika begitu saja lewat aksi radikal dan pemboman di mana-mana malah akan menjadikan negara Islam kalah. Hal seperti ini diperparah lagi dengan pemakaian simbol-simbol Islam, yang sebenarnya justru akan merusak citra Islam di mata Internasional. Kalau sudah demikian, bagaimana orang lain bisa tertarik masuk Islam! Lantas, akankah selamanya Amerika akan menjadi kafir? Bukankah tugas kita juga yang berdakwah di sana (tentunya dengan dakwah yang ramah dan penuh dengan kasih sayang).

Kembali pada persoalan kedatangan Obama ke Indonesia. Pada konteks ini, Islam sebenarnya sudah meletakkan pondasi tentang akhlak menghormati dan memulyakan tamu, meskipun dia seorang pembunuh berdarah dingin. Man kaana yu`minu billaahi wa al yaumi al aakhiri fa al yukrim dloifahu. Kita tentunya masih ingat bagaimana sikap Nabi terhadap musuh-musuhnya, bukankah beliau senantiasa menghormati mereka. Kita seharusnya bisa mengambil substansi dari sikap Nabi pada saat dakwah (secara umum), dan pada saat beliau di Madinah (secara khusus). Pada saat hijrah ke Madinah (Yatsrib), Nabi dihadapkan pada konflik antar suku yang sebelumnya terjadi di sana. Kita pun juga bisa mengambil hikmah dari Piagam Madinah yang mana isi dari piagam tersebut tidak hanya dimonopoli oleh kaum muslimin. Berikut isi dari piagam madinah:
  1. Kaum Yahudi hidup damai bersama-sama dengan kaum Muslim; kedua belah pihak memiliki kebebasan untuk memeluk dan menjalankan agamanya masing-masing.
  2. Kaum Muslim dan Yahudi wajib saling tolong-menolong untuk melawan siapa saja yang memerangi kaumnya.
Seperti itulah Nabi mengajarkan umatnya untuk senantiasa menghormati umat lain yang berbeda keyekinan. Dari ‘kecerdikan’ itulah umat Islam pada akhirnya mudah diterima siapapun dan dari golongan manapun. Hal seperti itu juga telah ditunjukkan oleh Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Begitu mulusnya proses ‘Islamisasi’ di bumi nusantara tanpa ada pertumpahan darah. Strategi jitu yang diterapkan Nabi dan Wali Songo dalam berdakwah tadi dapat disimpulkan (sebenarnya cukup sederhana saja), yakni pertama-tama mengambil hati masyarakat tersebut, setelah tersentuh hatinya, disusul kemudian sikap invitation (ajakan).

Hal ini mungkin tidak akan bisa terjadi sampai kapanpun manakala dalam dakwah tersebut tidak dibarengi dengan sikap toleransi dan mengormati umat lain, yang pada akhirnya akan timbul pertanyaan besar kembali, “sudahkah sikap umat Islam sekarang menyentuh hati kaum atau agama lain? Atau jangan-jangan prilaku umat Islam malah membuat mereka dengki pada Islam? Apakah sikap radikal, merasa paling benar, dan terorisme yang selama ini di bangga-banggakan adalah jalan terbaik?”

Menurut Mahfud MD (Setahun Bersama Gus Dur; Kenangan Menjadi Menteri di Saat Sulit: 71), memperjuangkan syari’at Islam tidaklah harus dengan formal kelembagaan, melainkan bisa dengan pemasyarakatan akan substansinya. Lanjutnya, dia mengatakan bahwa memperjuangkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta itu adalah memperjuangkan substansinya yang universal, seperti keadilan, kejujuran, amanah, demokratis, menghormati HAM, dan sebagainya. Sedangkan formalitas kelembagaannya tidak menjadi keharusan. Dia kemudian mengutip dalil “al ‘ibrah fil Islaam bil jauhar, laa bil madzhar”.

Secara individu, orang akan dihormati manakala dia menghormati lainnya. Sebaliknya, bagaimana bisa kita meminta pada orang lain untuk menghormati, sementara kita sendiri ‘mengacungkan pedang’ ke arah mereka. Sebagai negara demokrasi, Indonesia tidak melarang adanya perbedaan pendapat, dan tidak setuju dengan pendapat orang lain itu sangat diperbolehkan. Mari kita sambut setiap tamu yang datang tanpa pandang siapa dia, dari mana dia, dan apa agamanya. Semoga kedatangan Obama (yang ternyata ditunda lagi sampai Juni) bisa menjadi titik temu antara dunia ‘Barat’ dan ‘Timur’.